Ratu Kalinyamat - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke isi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Ratu Kalinyamat
Lukisan Ratu Kalinyamat karya Jatmiko
Lahir
Ratna Kencana
l.k. 1520
Demak
Demak Bintoro
Meninggal
1579
Jepara
Kalinyamat
Tempat tinggal
Jepara
Jawa Tengah
Pekerjaan
Ratu (
Kerajaan Kalinyamat
Dikenal atas
Ratu
Kerajaan Kalinyamat
Gelar
Kanjeng Ratu Kalinyamat
Suami/istri
Sultan Hadlirin
Relief
pada makam Ratu Kalinyamat di
Masjid Mantingan
Ratu Kalinyamat
(meninggal sekitar tahun
1579
) adalah penguasa Jepara pada abad ke-16. Ia merupakan puteri
Sultan Trenggana
, Raja raja ketiga Kesultanan
Demak
. Ratu Kalinyamat menjabat sebagai
Bupati
di
Jepara
dan tercatat terlibat dalam upaya perlawanan Jepara terhadap kekuasaan
Portugis
di Malaka. Pada masa pemerintahannya, Jepara berkembang sebagai salah satu kekuatan maritim di pesisir utara Jawa.
Pemerintah Indonesia menyematkan gelar pahlawan nasional kepada Ratu Kalinyamat pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2023.
Latar belakang
sunting
sunting sumber
Ratu Kalinyamat memiliki nama asli Retna Kencana, juga dikenal sebagai Ratu Pembayun atau Ratna Kencana. Ia adalah putri Sultan Trenggana (memerintah 1521–1546), raja Demak ketiga, sekaligus cucu Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak. Sebagai anggota keluarga inti Dinasti Demak, Retna Kencana tumbuh dalam lingkungan elite politik dan keagamaan Jawa pesisir yang memiliki pengaruh besar dalam perdagangan dan dakwah Islam.
Pada usia remaja, Retna Kencana dinikahkan dengan
Pangeran Kalinyamat
, yang kemudian bergelar Pangeran Hadiri atau Susuhunan Kalinyamat. Melalui pernikahan ini, ia tidak langsung naik takhta, melainkan mendampingi suaminya sebagai penguasa Jepara, sebuah wilayah penting di pesisir utara Jawa yang berfungsi sebagai pelabuhan utama Demak.
Asal-usul Pangeran Kalinyamat
sunting
sunting sumber
Pangeran Kalinyamat dikenal sebagai sosok yang datang dari luar Pulau Jawa, meski asal-usulnya memiliki berbagai versi. Berdasarkan tradisi Jepara, Pangeran Kalinyamat awalnya bernama Win-tang,
seorang pedagang dari Tiongkok yang terseret ombak hingga terdampar di pesisir Jepara. Setelah itu, ia menuntut ilmu di bawah arahan
Sunan Kudus
Menurut versi lain, Win-tang berasal dari Aceh dengan nama lahir Pangeran Toyib, putra Sultan Mughayat Syah (1514–1528). Ia pernah mengunjungi
Tiongkok
dan diangkat sebagai anak oleh seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan, yang memberinya nama baru, Tjie Bin Thang. Dalam catatan Jawa, nama itu kemudian dikenal sebagai Win-tang.
Win-tang beserta ayah angkatnya akhirnya berpindah ke Jawa, di mana ia mendirikan sebuah pemukiman yang kelak dikenal sebagai desa Kalinyamat, sekarang termasuk Kecamatan Kalinyamatan. Dari tempat inilah ia memperoleh julukan Pangeran Kalinyamat. Ia menikahi Retna Kencana, putri Sultan Demak yang kemudian dikenal sebagai Ratu Kalinyamat, yang kemudian membuatnya resmi menjadi bagian dari keluarga kerajaan Demak dan dianugerahi gelar Pangeran Hadiri.
Dalam pemerintahan di Jepara, Pangeran Kalinyamat dan Ratu Kalinyamat memerintah bersama. Ayah angkatnya, Tjie Hwio Gwan, diangkat sebagai patih dengan gelar Sungging Badar Duwung, yang turut memperkenalkan dan mengajarkan seni ukir kepada masyarakat setempat, membentuk dasar perkembangan budaya lokal Jepara.
Kematian Pangeran Kalinyamat
sunting
sunting sumber
Pada tahun 1549,
Sunan Prawata
, raja keempat Kesultanan Demak, dibunuh oleh utusan Arya Penangsang, sepupunya yang menjabat sebagai adipati Jipang. Setelah peristiwa tersebut, Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok milik Sunan Kudus menancapkannya pada tubuh kakaknya. Bersama suaminya, Pangeran Kalinyamat, ia pergi ke Kudus untuk menuntut penjelasan. Sunan Kudus, pendukung Arya Penangsang dalam perebutan takhta Demak pasca wafatnya Sultan Trenggana (1546), menyatakan bahwa tindakan itu merupakan balasan atas kematian ayah Arya Penangsang yang dibunuh oleh Sunan Prawata. Kecewa dengan jawaban tersebut, Ratu Kalinyamat dan Pangeran Kalinyamat memutuskan kembali ke Jepara. Dalam perjalanan, mereka diserang oleh pengikut Arya Penangsang, dan Pangeran Kalinyamat tewas. Lokasi kematiannya kemudian dikenal sebagai Desa Prambatan, karena jenazahnya konon merambat di tanah sebelum berhenti.
10
11
Ratu Kalinyamat melanjutkan perjalanan membawa jenazah Pangeran Kalinyamat, melewati sejumlah wilayah yang kemudian memperoleh nama berdasarkan peristiwa tersebut. Di sebuah sungai, darah jenazah mengubah warna air menjadi ungu, sehingga daerah itu dikenal sebagai Kaliwungu. Ia kemudian melewati Pringtulis dan Mayong, dinamai demikian karena Ratu Kalinyamat berjalan sempoyongan atau
moyang-moyong
. Selanjutnya jenazah melewati Purwogondo, tempat awal tercium bau jenazah, lalu Pecangaan, sebelum akhirnya tiba di Mantingan. Peristiwa ini menjadi bagian dari cerita rakyat yang menghubungkan perjalanan Ratu Kalinyamat dengan penamaan sejumlah wilayah di Jepara.
10
Pemerintahan
sunting
sunting sumber
Kenaikan takhta
sunting
sunting sumber
Setelah kematian suaminya, Retna Kencana melakukan pertapaan di Watu Gilang, Bukit Donorojo.
12
Tradisi Jawa menggambarkan pertapaan tersebut sebagai “telanjang”, yang dipahami secara simbolik sebagai sumpah hidup prihatin dan penolakan terhadap kemewahan hingga kematian Arya Penangsang, yang bertanggung jawab atas kematian suami dan saudara laki-lakinya. Naskah babad dan tradisi lisan menyebutkan bahwa selama masa pertapaan tersebut, Retna Kencana berada dalam ancaman sehingga berpindah ke tempat yang lebih aman dan terhindar dari upaya pembunuhan. Setelah Arya Penangsang tewas, Retna Kencana diangkat sebagai penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat.
13
Penulis-penulis Jawa tradisional kerap menggunakan tamsil atau perumpamaan dalam penyampaian peristiwa sejarah. Oleh karena itu, kisah pertapaan “telanjang” tidak dipahami secara harfiah, melainkan sebagai simbol tekad Ratu Kalinyamat. Dalam
Babad Tanah Jawi
, penekanan diberikan pada sikap dan keteguhan Ratu Kalinyamat yang memilih meninggalkan pemerintahan sementara untuk bertapa dan memohon petunjuk Tuhan, sebelum memperoleh dukungan dari Sultan Pajang dengan bantuan Ki Pemanahan dan Ki Penjawi.
14
Kejayaan Jepara
sunting
sunting sumber
Ratu Kalinyamat memerintah wilayah jepara pada periode 1546–1579. Selama masa pemerintahannya, ia memegang otoritas politik dan militer serta terlibat dalam berbagai ekspedisi militer melawan kekuatan Portugis. Sumber Portugis, terutama catatan Meilink-Roelofsz,
15
menyebut Jepara sebagai pusat perdagangan yang ramai dan makmur. Pada kurun waktu antara 1549 hingga 1579, Kesultanan Kalinyamat mencapai puncak pengaruhnya dalam dunia maritim. Pada masa ini, kerajaan mengembangkan pelabuhan-pelabuhan dan melaksanakan sejumlah ekspedisi laut. Meskipun ekspedisi tersebut tidak menghasilkan penguasaan wilayah secara berkelanjutan, sumber-sumber sejarah mencatat keterlibatan berkelanjutan Ratu Kalinyamat dalam perlawanan terhadap Portugis, termasuk ekspedisi ke Ambon pada tahun 1565. Masa pemerintahannya berlangsung dalam konteks sejarah ketika penguasa perempuan juga memegang peranan penting di wilayah lain, seperti Aceh dan kawasan pesisir utara Jawa.
16
Wilayah Kesultanan Kalinyamat pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, meliputi Jepara, Kudus, Pati, Juwana, Rembang, dan Mataram. Jepara juga menjalin hubungan dagang dengan daerah lain seperti Malaka, Bali, Maluku, Makassar, dan Banjarmasin. Kota ini menjadi pusat produksi dan distribusi komoditas maritim serta kerajinan, termasuk seni ukir yang kelak menjadi identitas Jepara.
Serangan Terhadap Portugis
sunting
sunting sumber
Serangan Pertama
sunting
sunting sumber
Ratu Kalinyamat kembali menjabat sebagai bupati Jepara. Setelah wafatnya Arya Penangsang pada tahun 1549. Pada saat itu wilayah Demak, Jepara, dan Jipang berada di bawah kekuasaan Pajang yang dipimpin oleh Raja Hadiwijaya. Meskipun demikian, Hadiwijaya tetap menghormati Ratu Kalinyamat sebagai sosok senior yang berpengaruh.
17
Seperti bupati Jepara sebelumnya yaitu
Pati Unus
, Ratu Kalinyamat memiliki kebijakan yang menentang kehadiran Portugis. Pada tahun 1550, ia mengerahkan sekitar 4.000 prajurit Jepara yang menaiki 40 kapal untuk memenuhi permintaan Sultan Johor dalam upaya merebut kembali Malaka dari kekuasaan Eropa, yang pada masa itu merupakan pusat perdagangan rempah-rempah.
16
Pasukan Jepara kemudian bergabung dengan armada Persekutuan Melayu, membentuk kekuatan sekitar 200 kapal perang. Serangan gabungan dari arah utara berhasil merebut sebagian wilayah Malaka, meskipun Portugis melakukan perlawanan. Pasukan Persekutuan Melayu terpaksa mundur, sementara pasukan Jepara tetap bertahan. Setelah pemimpin pasukan gugur, tentara Jepara akhirnya ditarik mundur. Pertempuran lanjutan di laut dan pantai menewaskan sekitar 2.000 prajurit Jepara.
18
Angin badai menyebabkan dua kapal mereka kandas di pantai Malaka dan jatuh ke tangan Portugis. Dari seluruh pasukan yang berangkat, hanya kurang dari separuh yang berhasil kembali ke Jawa. Ratu Kalinyamat tetap gigih dalam perlawanan terhadap Portugis. Pada tahun 1565, Ratu Kalinyamat memenuhi permintaan masyarakat Hitu di Ambon untuk menghadapi gangguan dari Portugis dan kelompok Hative.
19
Serangan Kedua
sunting
sunting sumber
Pada tahun 1564,
Sultan Alauddin Al - Qahhar
dari
Kesultanan Aceh
meminta bantuan Demak untuk menyerang Portugis di Malaka. Saat itu, Demak dipimpin Arya Pangiri, putra Sunan Prawata, yang dikenal mudah curiga, sehingga utusan Aceh dibunuh. Aceh kemudian tetap melancarkan serangan ke Malaka pada 1567 tanpa dukungan Jawa, namun serangan tersebut gagal. Pada 1573, Sultan Aceh kembali meminta bantuan, kali ini kepada Ratu Kalinyamat. Ia mengirim 300 kapal berisi sekitar 15.000 prajurit Jepara, dipimpin oleh Ki Demang Laksamana. Pasukan baru tiba di Malaka pada Oktober 1574, setelah pasukan Aceh sebelumnya telah dikalahkan Portugis. Jepara menembaki Malaka dari Selat Malaka, mendarat, dan membangun pertahanan, tetapi akhirnya pertahanannya ditembus Portugis. Sekitar 30 kapal terbakar dan enam kapal perbekalan direbut. Dalam kondisi semakin lemah, pasukan Jepara memutuskan kembali ke Jawa, dengan hanya sekitar sepertiga dari jumlah awal yang selamat.
20
21
Meskipun mengalami kekalahan, Ratu Kalinyamat tercatat sebagai pemimpin wanita yang gagah berani. Portugis menyebutnya
rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame
, yang berarti “Ratu Jepara, wanita kaya dan berkuasa, perempuan pemberani".
22
Anak Angkat
sunting
sunting sumber
Ratu Kalinyamat tidak memiliki anak kandung. Ia mengasuh beberapa kerabat sebagai anak angkat, antara lain Pangeran Timur Rangga Jumena, Arya Pangiri, dan Pangeran Arya Jepara, yang masing-masing memiliki peran penting dalam politik Jawa pasca-Demak.
Pangeran Timur Rangga Jumena
sunting
sunting sumber
Pangeran Timur Rangga Jumena adalah putra bungsu dari Sultan Trenggana yang kemudian menjabat sebagai bupati Madiun.
23
Arya Pangiri
sunting
sunting sumber
Artikel utama:
Awantipura dari Pajang
Arya Pangiri adalah putra dari Sunan Prawoto, raja keempat Kesultanan Demak, yang kemudian menjadi penguasa Demak sebelum berkuasa di Pajang. Ia awalnya menjabat sebagai adipati (bupati) Demak setelah menikah dengan Ratu Pembayun, putri Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya mangkat pada tahun 1583, terjadi perebutan kekuasaan di Pajang antara putra mahkota, Pangeran Benawa, dan Arya Pangiri, serta dukungan ulama pesisir. Dalam konflik ini Arya Pangiri berhasil menyingkirkan Pangeran Benawa dan naik takhta Pajang dengan gelar Sultan Ngawantipura pada tahun tersebut. Pemerintahannya dikenal lebih fokus pada ambisi militer, terutama konflik dengan kerajaan Mataram, sehingga mengabaikan kesejahteraan rakyat. Kekuasaan Arya Pangiri berakhir pada tahun 1586 ketika Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya dari Mataram menyerbu Pajang. Arya Pangiri dikalahkan dan kemudian dikembalikan ke Demak, sementara Pangeran Benawa mengambil alih kepemimpinan Pajang.
24
25
26
Pangeran Arya Jepara
sunting
sunting sumber
Artikel utama:
Pangeran Arya Jepara
Pangeran Arya Jepara merupakan anak dari Maulana Hasanuddin, sultan pertama Kesultanan Banten, dan seorang anggota keluarga keraton Demak melalui ibunya, Ratu Ayu Kirana, saudara perempuan
Sultan Trenggana
. Pangeran ini diangkat dan dibesarkan di lingkungan istana Kalinyamat, di mana ia diperlakukan seperti anggota keluarga kerajaan dan kelak menjadi penguasa Jepara setelah wafatnya Ratu Kalinyamat. Setelah kematian Sultan Maulana Yusuf dari Banten pada sekitar tahun 1580, putra mahkota Banten masih di bawah umur. Pangeran Arya Jepara kemudian berupaya merebut takhta Kesultanan Banten, yang memicu konflik bersenjata di wilayah tersebut. Dalam peristiwa pertempuran tersebut, pasukan yang dipimpin Arya Jepara harus menarik diri setelah Ki Demang Laksamana, komandan militernya, gugur dalam pertempuran melawan Patih Mangkubumi dari Kesultanan Banten. Setelah gagal dalam perebutan kekuasaan di Banten, Arya Jepara kembali ke Kalinyamat. Namun, pada akhir abad ke‑16, kerajaan Kalinyamat diserang oleh pasukan Panembahan Senopati dari Kesultanan Mataram yang memperluas pengaruhnya di Jawa. Dalam serangan tersebut, kota Jepara berhasil diduduki dan pusat pemerintahan Kalinyamat mengalami kehancuran, menandai berakhirnya otonomi politik kerajaan tersebut di bawah kekuasaan Mataram.
25
26
27
Pengganti Ratu Kalinyamat
sunting
sunting sumber
Ratu Kalinyamat meninggal dunia sekitar tahun 1579 dan dimakamkan tidak jauh dari pusara Pangeran Kalinyamat, tepatnya di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.
28
Selama memimpin, Ratu Kalinyamat juga berperan dalam membimbing sejumlah tokoh muda yang kemudian menjadi figur penting dalam politik Jawa dan Banten. Tokoh pertama adalah adiknya, Pangeran Timur Rangga Jumena, putra bungsu Sultan Trenggana, yang kemudian memegang jabatan sebagai bupati Madiun. Tokoh kedua, Arya Pangiri, adalah keponakannya dari Sunan Prawata, yang kelak menjadi bupati Demak. Sementara itu, sepupunya, Pangeran Arya Jepara, putra Ratu Ayu Kirana (saudara perempuan Sultan Trenggana), juga mendapat bimbingan dari Ratu Kalinyamat.
29
Penghargaan
sunting
sunting sumber
Pada 10 November 2023, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Ratu Kalinyamat atas jasanya dalam perjuangan melawan kolonialisme dan kepemimpinannya sebagai penguasa perempuan Nusantara.
30
Kepustakaan
sunting
sunting sumber
Babad Tanah Jawi
. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi
De Graaf HJ,
Pigeaud ThGT
2001
Kerajaan Islam Pertama di Jawa
. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
Hayati dkk. 2000.
Peranan Ratu Kalinyamat di jepara pada Abad XVI
. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional.
Referensi
sunting
sunting sumber
Hayati, Chusnul (2000).
Peranan Ratu Kalinyamat di Jepara pada abad XVI
. Departemen Pendidikan Nasional.
Wiyatmi; Sari, Swatika; Liliani, Else (2021).
Para raja dan pahlawan perempuan, serta bidadari dalam folklor Indonesia
. Cantrik Pustaka.
ISBN
978-602-0708-82-9
Supriyono, Agustinus. (2013).
TINJAUAN HISTORIS JEPARA SEBAGAI KERAJAAN MARITIM DAN KOTA PELABUHAN
. Paramita: Historical Studies Journal. 23.
Fakir, Suparman Al (2023-10-14).
LAJER GLAGAHWANGI
. Uwais Inspirasi Indonesia. hlm.
258.
ISBN
978-623-133-162-5
Pemeliharaan CS1: Status URL (
link
M.Si, Drs M. Rizal Qasim (2019-09-30).
Di Balik Runtuhnya Majapahit Dan Berdirinya Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa
. Araska Publisher.
ISBN
978-623-7145-66-0
Atmosiswartoputra, Mulyono (2020-04-24).
Perempuan-Perempuan Pengukir Sejarah
. Bhuana Ilmu Populer.
ISBN
978-602-455-271-8
ACHMAD, SRI WINTALA (2020).
MELACAK GERAKAN PERLAWANAN DAN LAKU SPIRITUALITAS RATU KALINYAMAT
. Araska Publisher.
ISBN
978-623-7910-55-8
ADJI, KRISNA BAYU (2018).
Ensiklopedi Raja-Raja dan Istri-Istri Raja di Tanah Jawa Dari Wangsa Sanjaya hingga Hamengku Buwono IX
. Araska Publisher.
ISBN
978-602-5805-23-3
Santoso, Suwito (1987).
Babad Tanah Jawi: Galuh Mataram
. Citra Jaya Murti.
Mardiyono, Peri (2020).
Tuah Bumi Mataram: Dari Panembahan Senopati hingga Amangkurat II
. Araska Publisher. hlm.
292.
ISBN
9786237537793
Pemeliharaan CS1: Status URL (
link
Mardiyono, Peri (2020).
Tuah Bumi Mataram: Dari Panembahan Senopati hingga Amangkurat II
. Araska Publisher. hlm.
255.
ISBN
9786237537793
Pemeliharaan CS1: Status URL (
link
Olthof, W. L. (2017-12-17).
Babad Tanah JAWI: Mulai dari Nabi Adam Sampai Runtuhnya Mataram
. Narasi. hlm.
67.
ISBN
978-979-16853-3-7
Pemeliharaan CS1: Status URL (
link
Meilink-Roelofsz, Marie Antoinette Petronella (1962).
Asian Trade and European Influence in the Indonesian Archipelago Between 1500 and about 1630
(dalam bahasa Inggris). Nijhoff.
Worthy, Kenneth; Allison, Elizabeth; Bauman, Whitney (2018-11-09).
After the Death of Nature: Carolyn Merchant and the Future of Human-Nature Relations
(dalam bahasa Inggris). Routledge.
ISBN
978-1-351-58290-2
Abdullah, Muhlis (2020).
HURU-HARA MAJAPAHIT DAN BERDIRINYA KERAJAAN ISLAM DI JAWA
. Araska Publisher.
ISBN
978-623-7537-49-6
"Sosok Ratu Kalinyamat, Kegigihannya Membebaskan Malaka Diakui Portugis"
SINDOnews Daerah
. Diakses tanggal
2026-04-01
"Hitu dan Ratu Kalinyamat Koalisi Erat Perjuangan Bangsa | Media Indonesia"
EpaperMI
(dalam bahasa Inggris). 2021-11-06
. Diakses tanggal
2026-04-01
Laily, Anis Nur; Prakoso, Lukman Yudho; Putri, Puja Sari (2023-08-29).
"The Role of Ratu Kalinyamat in Past Maritime Successes: As a Study of Archipelago Sea Defense"
Ministrate: Jurnal Birokrasi dan Pemerintahan Daerah
(dalam bahasa Inggris).
(3):
282–
290.
doi
10.15575/jbpd.v5i3.28912
ISSN
2714-8130
Emalia, Imas; Pradjoko, Didik (2025-12-05).
"The Maritime Strategy of Queen Kalinyamat in Shaping the Demak-Jepara Sultanate, 1549–1579"
JAWI
(dalam bahasa Inggris).
(2):
128–
141.
doi
10.24042/00202582804900
ISSN
2622-5530
Barros, João de (1778).
Da Asia de João de Barros e de Diogo de Couto
. Lisboa: Na Regia officina typografica.
M.Si, Drs M. Rizal Qasim (2019-09-30).
Di Balik Runtuhnya Majapahit Dan Berdirinya Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa
. Araska Publisher.
ISBN
978-623-7145-66-0
"Salinan arsip"
. Diarsipkan dari
asli
tanggal 2013-12-03
. Diakses tanggal
2013-11-27
Graaf, H. J. de (2012-12-11).
Islamic States in Java 1500-1700: Eight Dutch Books and Articles by Dr. H.J. de Graaf
(dalam bahasa Inggris). BRILL.
ISBN
978-90-04-28700-6
Ricklefs, M. C. (2008).
"A History of Modern Indonesia since c .1200"
doi
10.5040/9781350394582
Isnaeni, Hendri F. (2019-06-18).
"Pangeran Jepara Menuntut Takhta Banten"
Historia.ID
. Diakses tanggal
2026-04-01
Kompasiana.com (2025-05-31).
"Masjid dan Makam Mantingan; Warisan budaya Ratu Kalinyamat"
KOMPASIANA
. Diakses tanggal
2026-02-08
Sulistyanto, B. (2019).
Ratu Kalinyamat: Sejarah atau Mitos?
Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Safitri, Eva.
"Jokowi Resmi Beri Gelar Pahlawan Nasional ke 6 Tokoh"
detik.com
. Detik
. Diakses tanggal
10 November
2023
Pahlawan Nasional Indonesia
Politik
Abdul Halim Majalengka
Abdul Kahar Mudzakkir
Abdurrahman Wahid
Achmad Soebardjo
Adam Malik
Adnan Kapau Gani
Alexander Andries Maramis
Alimin
Andi Sultan Daeng Radja
Arie Frederik Lasut
Arnold Mononutu
Djoeanda Kartawidjaja
Ernest Douwes Dekker
Fatmawati
Ferdinand Lumban Tobing
Frans Kaisiepo
Gatot Mangkoepradja
Hamengkubuwana IX
Herman Johannes
Idham Chalid
Ida Anak Agung Gde Agung
Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono
I Gusti Ketut Pudja
Iwa Koesoemasoemantri
Izaak Huru Doko
Johannes Leimena
Johannes Abraham Dimara
Kasman Singodimedjo
Kusumah Atmaja
Lambertus Nicodemus Palar
Mahmud Syah III dari Johor
Mangkunegara I
Maskoen Soemadiredja
Mochtar Kusumaatmadja
Mohammad Hatta
Mohammad Husni Thamrin
Moewardi
Teuku Nyak Arif
Nani Wartabone
Oto Iskandar di Nata
Radjiman Wedyodiningrat
Rasuna Said
Saharjo
Samanhudi
Soeharto
Soekarni
Soekarno
Sukarjo Wiryopranoto
Soepomo
Soeroso
Soerjopranoto
Sutan Mohammad Amin Nasution
Sutan Syahrir
Syafruddin Prawiranegara
Tan Malaka
Tjipto Mangoenkoesoemo
Oemar Said Tjokroaminoto
Zainal Abidin Syah
Zainul Arifin
Militer
Abdul Haris Nasution
Andi Abdullah Bau Massepe
Basuki Rahmat
Tjilik Riwut
Jamin Ginting
Gatot Soebroto
Harun Thohir
Hasan Basry
John Lie
R.E. Martadinata
Marthen Indey
Mas Isman
Muhammad Yasin
Sarwo Edhie Wibowo
Syam'un
Soedirman
Soekanto Tjokrodiatmodjo
Soeprijadi
Oerip Soemohardjo
Usman Janatin
Yos Sudarso
Djatikoesoemo
Moestopo
Kemerdekaan
Agustinus Adisoetjipto
Abdulrachman Saleh
Adisumarmo Wiryokusumo
Andi Djemma
Ario Soerjo
Bagindo Azizchan
Bernhard Wilhelm Lapian
Halim Perdanakusuma
Ignatius Slamet Rijadi
Iswahyudi
I Gusti Ngurah Rai
Muhammad Mangundiprojo
Robert Wolter Mongisidi
Sam Ratulangi
Soepeno
Sutomo (Bung Tomo)
Tahi Bonar Simatupang
Revolusi
Ahmad Yani
Karel Satsuit Tubun
Mas Tirtodarmo Harjono
Katamso Darmokusumo
Donald Izaac Panjaitan
Pierre Tendean
Siswondo Parman
Sugiyono Mangunwiyoto
R. Suprapto
Sutoyo Siswomiharjo
Pergerakan
Abdurrahman Baswedan
Maria Walanda Maramis
dr. Soetomo
Wage Rudolf Soepratman
Wahidin Soedirohoesodo
Sastra
Abdoel Moeis
Agus Salim
Amir Hamzah
Mohammad Yamin
Ali Haji bin Raja Haji Ahmad
Seni
Ismail Marzuki
Usmar Ismail
Pendidikan
Dewi Sartika
Kartini
Ki Hadjar Dewantara
Ki Sarmidi Mangunsarkoro
Muhammad Salahuddin
Rahmah El Yunusiyyah
Rubini Natawisastra
Sardjito
Soeharto Sastrosoeyoso
Syaikhona Muhammad Kholil
Integrasi
Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng
Silas Papare
Syarif Kasim II dari Siak
Pers
M. Tabrani
Roehana Koeddoes
Tirto Adhi Soerjo
Pembangunan
Moestopo
Pangeran Mohammad Noor
Suharso
Siti Hartinah
Teuku Mohammad Hasan
Wilhelmus Zakaria Johannes
Agama
As'ad Samsul Arifin
Abdul Chalim
Abdul Wahab Hasbullah
Ahmad Dahlan
Ahmad Hanafiah
Ahmad Sanusi
Albertus Soegijapranata
Bagoes Hadikoesoemo
Fakhruddin
Haji Abdul Malik Karim Amrullah
Hasyim Asy'ari
Hazairin
Ilyas Yakoub
Lafran Pane
Mas Mansoer
Masjkur
Mohammad Natsir
Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
Noer Alie
Nyai Ahmad Dahlan
Syech Yusuf Tajul Khalwati
Wahid Hasjim
Perjuangan
Abdul Kadir
Achmad Rifa'i
Andi Depu
Andi Mappanyukki
Aji Muhammad Idris
Aria Wangsakara
Baabullah
Bataha Santiago
Cut Nyak Dhien
Cut Nyak Meutia
Depati Amir
Hamengkubuwana I
I Gusti Ketut Jelantik
I Gusti Ngurah Made Agung
Ida Dewa Agung Jambe
Himayatuddin Muhammad Saidi
Iskandar Muda dari Aceh
Kiras Bangun
La Madukelleng
Machmud Singgirei Rumagesan
Mahmud Badaruddin II dari Palembang
Malahayati
Marsinah
Martha Christina Tiahahu
Nuku Muhammad Amiruddin
Nyai Ageng Serang
Opu Daeng Risadju
Paku Alam VIII
Pakubuwana VI
Pakubuwana X
Pangeran Antasari
Pangeran Diponegoro
Pattimura
Pong Tiku
Raden Mattaher
Radin Inten II
Ranggong Daeng Romo
Raja Haji Fisabilillah
Ratu Kalinyamat
Salahuddin bin Talabuddin
Sisingamangaraja XII
Sultan Agung dari Mataram
Sultan Hasanuddin
Teungku Chik di Tiro
Tuanku Imam Bonjol
Tuanku Tambusai
Teuku Umar
Tirtayasa dari Banten
Thaha Saifuddin dari Jambi
Tombolotutu
Tuan Rondahaim Saragih
Untung Suropati
Zainal Mustafa
Diusulkan
Portal Indonesia
Diperoleh dari "
Kategori
Pahlawan nasional Indonesia
Kematian 1579
Tokoh wanita
Kerajaan Kalinyamat
Tokoh Jawa
Tokoh Jawa Tengah
Tokoh dari Jepara
Kategori tersembunyi:
Artikel biografi dengan tabel penghargaan
Pages to import images to Wikidata
Articles with hCards
Pemeliharaan CS1: Status URL
CS1 sumber berbahasa Inggris (en)
Galat CS1: parameter tidak didukung
Galat CS1: periode hilang
Ratu Kalinyamat
Bagian baru